Kisah Wongkito 19, Pempek Beromzet Ratusan Juta

pempek1“Aslinya pempek Palembang”, jargon Wongkito 19 ini memang benar-benar diterapkan dalam setiap produk pempeknya. Sang juragan yang adalah putra Palembang asli, Kemas Firmansyah, mengatakan awal keinginannya membuka bisnis kuliner ini adalah karena ingin menunjukkan identitasnya sebagai orang Palembang. Sebabnya, selama ini, Kemas melihat sebagian besar pedagang pempek bukanlah orang asli Pelembang. Padahal, pempek merupakan makanan tradisional khas wong kito galo, sebutan untuk orang Palembang.

Bisnis pempek ini mulai dia rintis pada akhir tahun 2006, dimulai dengan membuka outlet kecil di dekat rumahnya di daerah Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Berkat keuletannya mempopulerkan bisnis ini, dalam beberapa tahun, jumlah gerai pempeknya terus bertambah. Setelah ia menawarkan kemitraan di tahun 2008, bisnisnya bertumbuh pesat hingga saat ini gerai pempeknya sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Dari jumah itu, 89 gerai di antaranya milik mitra.

Kecintaan Kemas terhadap pempek dimulai sejak dia kecil. Ia mengaku, sejak kecil sudah terbiasa menyantap pempek karena ibunya suka membuat makanan tersebut. Dan seiring usianya yang makin beranjak dewasa, Kemas pun mulai membuat pempek sendiri. Berbekal kemampuan itu, dia kemudian terjun ke usaha pempek.

Jadi memang sejak awal, Kemas sudah menyukai bisnis kuliner ini. Hal ini yang membuatnya mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk mengembangkan usaha. “Kalau berbisnis harus disukai dulu supaya maksimal,” tuturnya.

Juragan Wongkito 19 ini langsung memperkenalkan variasi pempek hasil racikannya begitu pertama mulai membuka usaha, seperti pempek sosis, pempek kapal selam, pempek keju, dan panggang. Aneka pempek ini dibanderol mulai Rp 3.000 hingga Rp 14.000 per buah. “Salah satu favorit pelanggan adalah pempek kapal selam super,” ujarnya.

Penggemar pempeknya yang kian bertambah lantas mendorong Kemas untuk memberanikan diri menawarkan kemitraan. Menurutnya, sebuah usaha bisa berkembang jika ia bermitra dengan orang lain. Dan dengan bermitra, maka sebuah brand akan semakin dikenal masyarakat. “Pebisnis harus punya banyak partner,” katanya. Selain menjalin kemitraan, Kemas juga memanfaatkan media online untuk memperkenalkan produknya dengan membuat website Wongkito 19.

Beberapa pegawainya ditugaskan untuk memuat info-info terbaru terkait Wongkito 19, sehingga tiap hari, Anda akan selalu menemukan informasi baru di situs Wongkito 19. Dari sanalah bisnis kuliner pempek ini terus berkembang. Tak cuma di Jabodetabek, mitranya pun ada di Bandung, Cirebon, dan Kalimantan.

Jatuh bangun

Kemas menuturkan, jiwa bisnisnya sudah terasah sejak kecil. Ia telah terbiasa berjualan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), menjajakan martabak buatan ibunya. “Saya jualan martabak keliling kampung,” kenangnya.

Ketika mengecap bangku sekolah menengah atas (SMA), ia mencoba menekuni usaha pembuatan tatabahasa (grammar) bahasa Inggris. Tatabahasa itu dibuat dalam bentuk kalender, sehingga bisa ditempel di dinding dan memudahkan menghafalnya.

Naluri bisnisnya terus berlanjut. Masanya berkuliah di Universitas Sriwijaya Palembang dipakainya sembari berjualan jaket, celana jins, dan baju kepada teman-temannya. “Saya memesannya dari Bandung,” ujarnya.

Setelah lulus di tahun 1995, Kemas sempat bekerja di beberapa perusahaan. Namun, naluri bisnisnya yang kuat membuatnya menanggalkan profesinya sebagai karyawan di tahun 2002 dan terjun ke bisnis servis komputer di Bekasi. Bukan hanya jasa servis, ia juga menyediakan komponen-komponen komputer. Namun, bisnis ini hanya bertahan dua tahun. Setelah menutup usaha ini, ia beralih menggeluti bisnis penjualan mobil. Kemas memulai usaha jual beli mobil baru dan bekas pada tahun 2004. Selama menggeluti usaha ini, ia sempat memiliki showroom sendiri di Bekasi.

Namun karena dilanda krisis, bisnisnya ini kembali harus gulung tikar. “Waktu itu, harga BBM (bahan bakar minyak) naik sehingga penjualan mobil turun drastis,”jelasnya. Saat menutup usaha ini tahun 2005, ia terjerat utang dalam jumlah besar. Untuk melunasi utangnya, ia terpaksa menjual rumah dan aset-aset miliknya.

Tapi pengalaman jatuh bangun di dunia bisnis ini tidak membuatnya jera. Kemas menilai, kegagalan itu bukanlah akhir dari bisnisnya. Tidak sampai satu tahun setelah menutup usahanya, Kemas bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta sebagai sales marketing. Di perusahaan itu ia bertekad untuk mengumpulkan modal sebelum terjun ke dunia bisnis lagi. Ia berhasil memperoleh pendapatan yang lumayan besar kala itu karena berhasil menjual ribuan mobil.

Setelah tabungannya terkumpul cukup banyak, di tahun 2007 ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan mendirikan bisnis pempek. Bisnis ini dirintisnya dengan modal awal Rp 20 juta.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, ia pun bertekad untuk mengembangkan bisnis barunya ini.  Upayanya itu tidak sia-sia.Terbukti, total gerai pempeknya kini sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Comments

comments