Buka-Bukaan Rahasia Sukses Waroeng Spesial Sambal (Waroeng SS)

aAnda merasa familiar ketika mendengar “Waroeng SS (Super Sambal)” ? Bagi Anda penyuka sensasi pedas meriah pasti tahu dong tentang rumah makan satu ini. Ya, sesuai namanya, Waroeng SS Super Sambal menyediakan berbagai variasi sambal dari seluruh penjuru nusantara, total hingga saat ini terdapat 32 macam sajian sambal.

Menengok perjalanan bisnis kuliner ini dari awal berdirinya, sang pendiri Yoyok Hari Wahyono (41) yang memang memiliki kecintaan terhadap sambal, adalah seorang mahasiswa UGM jurusan Teknik Kimia. Yoyok yang kala itu sudah menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan terkenal di Yogya rela melepaskan kariernya demi banting setir menjadi enterpreneur kuliner. Melihat peluang yang ada, Yoyok bersama teman-teman mulai menjalankan Waroeng SS pada Agustus 2002.

Ketika itu, Waroeng SS hanya memiliki 3 orang pegawai dan Yoyok sendiri yang bertugas memasak seluruh sajian. Kini setelah melewati berbagai pergelutan dengan mengandalkan ketekunan dan keuletan, Waroeng SS telah berkembang menjadi 58 outlet yang tersebar di 27 kota di Indonesia dan memiliki 1.800 orang karyawan.

Perjuangan tak kenal lelah selama sebelas tahun bukannya berjalan tanpa hambatan, menurut pengakuan Yoyok, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana menghasilkan produk yang lebih baik. Yoyok menuturkan, kunci kesuksesan bagi usaha kuliner adalah kekuatan rasa, dimana rasa yang dihadirkan di Waroeng SS tidak hanya enak, tetapi mengesankan, memikat, dan membuat kangen. Yoyok menambahkan dengan satu cerita dimana ada sebuah warung makan yang pelayanannya tidak ramah sama sekali, lokasinya kurang bersih, susah dijangkau, tetapi kenyataannya tetap laris. “Larisnya warung tersebut tidak lain karena memiliki citarasa masakan yang ngangeni,” ujarnya.

Kenyataan itulah yang sampai saat ini diperjuangkan Yoyok untuk senantiasa menjaga kualitas rasa menu yang ada di Waroeng SS. Bahkan karena kekhawatiran berkurangnya kualitas menu masakan yang ada, Waroeng SS yang pernah menerapkan sistem franschise, kini hanya menerapkan kemitraan tertutup, meskipun masih membuka peluang pihak-pihak luar untuk bekerjasama. Dengan sistem tersebut, Waroeng SS bisa lebih mengontrol setiap produk dari tiap outlet, sehingga kualitas citarasa hingga pelayanan bisa termonitor dengan baik.

Pada bulan pertama omset yang diraup Waroeng SS rata-rata Rp 1.500.00,- per harinya. Di tahun pertama Yoyok lebih berfokus pada proses produksi, sehingga kurang ikut campur tangan dalam permasalahan manajemen terutama manajemen keungan, karena itu sekalipun Waroeng SS laris manis tetapi laba yang terkumpul tidak terlihat.

Setelah saat ini memiliki 58 outlet yang tersebar di Jawa, Sumatra, dan Bali, Waroeng SS bisa memperoleh omzet rata-rata 11-12 milyar per bulan untuk semua cabang di Indonesia. Kendati memperoleh omzet yang lumayan besar, tetapi menurut Yoyok Waroeng SS miliknya belum bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan. “Untuk margin keuntungan hanya berkisar di angak 8-13%, karena bagi saya SS ini usaha yang boros, selain operasional bahan baku, juga untuk biaya SDM yang bisa mencapai 20%,” jelasnya. Baginya, SDM itu penting karena menjadi ujung tombak usahanya, sehingga Yoyok berfikiran sebelum mensejahterakan pelanggan, dirinya harus menyejahterakan karyawannya terlebih dahulu.

Untuk meluluskan hal itu kini Waroeng SS telah memiliki gedung training yang khusus disediakan untuk menggembleng teknik maupun mental para calon maupun karyawan Waroeng SS dari seluruh Indonesia. Gedung training yang terletak di Jalan Kaliurang Yogyakarta tersebut sengaja dibangun demi menghasilkan SDM Waroeng SS yang berkualitas, baik secara teknik maupun mentalnya. “Sejauh ini memang yang cukup menjadi kendala bagi kami (waroeng SS) adalah masalah SDM, khususnya kaderisasi manajemen (manager dan supervisor), katanya penduduk Indonesia itu banyak penganggurannya, namun unuk mendapatkan orang yang benar-benar mau bekerja itu ternyata sangat sulit,” terang Yoyok sembari tertawa.

Memang bagi Yoyok, sebagai seorang pengusaha, dirinya saat ini tidak hanya fokus dalam mencukupi kebutuhan semata, namun lebih kepada tanggung jawab. “Jika menilik dari kebutuhan semata, hanya dengan 10 sampai 20 cabang pun saya kira sudah cukup, namun disini saya memiliki tanggung jawab terhadap para karyawan, bagaimana agar karyawan itu tidak berhenti berkeasi dan berinovasi, oleh karena itu sejauh ini kami akan terus melakukan ekspansi cabang,” jelasnya lagi.

Kini Yoyok yang identik dengan sebutan Mr. Huuh Haah bersama Waroeng SS-nya berhasil menjadi salah satu pioneer dalam bisnis kuliner ini. Yoyok juga berbagi pesan kepada masyakarat yang ingin menjadi seorang pengusaha seperti dirinya. “Jika ingin menjadi pengusaha sukses, pilihlah bidang yang dekat dengan dunia kita, dalam hal ini hobi, kemudian kembangkanlah hobi tersebut; selain itu sebisa mungkin mulailah bisnis itu dari nol atau dari bagian yang sekecil-kecilnya, supaya kita bisa tahu betul perkembangan bisnis kita dari mulai embrio sampai dewasa; selanjutnya fokus dan total,” tuturnya.

Comments

comments